Selasa, 15 Oktober 2013

Qalbu al-Qur'an









Living Qur’an:
Tradisi Pembacaan Qalbul Qur’an 
di Pesantren Miftahul Ulum
Wonokerto Dukun Gresik

 

PENELITIAN


 

Oleh:
Muhammad Maghfur Amin

 

Setelah mendahulukan puji kepada Allah swt. dan menghantar rahmat ta’dzim kepada Nabi Muhammad saw.
Dalam ilmu budaya dikenal tentang cipta, rasa dan karsa manusia, sebagai konsepsi pemunculan nilai dan norma. Setiap konsepsi cenderung mengarah pada konkritisasi dan meterialisasi dari substansi hal yang telah terkonsep tersebut. Dasar langkah manusia mengenai pandangan hidup yang baik adalah; mengenal, mengerti, menghayati, mayikini, mengabdi, mengamankan. Langkah-langkah itu jika diimplementasikan dalam memandang al-Quran maka akan menjadi jalinan kuat dalam menjadikan al-Quran sebagai produsen budaya.[1]
Penulis menemukan riwayat bahwa Nabi pernah bersabda segala sesuatu mempunyai hati, maka Yasin adalah hati dari al-Quran. Riwayat tersebut disikapi lebih lanjut oleh ulama bahwa bukan hanya al-Quran itu Yasin sebagai hatinya, bahkan tiap surat dari al-Quran masing-masing memiliki qalb. Qalb itu adalah satu ayat dalam tiap surat, yang oleh salah seorang ulama kemudain dihimpun dalam satu kitab kompilasi dengan nama “Qalbul Qur’an”.
Lebih lanjut tentang hal itu, kitab Qalbul Qur’an ini telah rutin dibaca sebagai wirid  pada suatu pesantren di daerah Gresik, yakni Pesantren Miftahul Ulum desa Wonokerto Kecamatan Dukun. Fenomena demikianlah yang menggugah peneliti untuk lebih dalam melakukan research yang langsung melibatkan peneliti sendiri. Tujuan penelitian ini pertama, peniliti ingin menulusuri genealogi, bagaimana kitab Qalbul Qur’an tersebut diambil dari segi periwayatan dan akar ide pengambilannya. Dari aspek ini akan diketahui dengan jelas biografi dari kitab tersebut. Selanjutnya peniliti akan lebih jauh menilik tentang apresiasi dan resepsi masyarakat tentang kitab dan tradisi pembacaannya.
Dari penelitian dua aspek tersebut tentu akan memberikan sumbangsih yang berharga dalam kajian living Qur'an. Sebagaimana kita ketahui kedekatan kajian Quran dan sosial budaya dengan fenomena. Peneliti berharap dengan peneltian ini dapat menumbuh-kembangkan semangat riset ilmiah bagi para akademisi dalam rangka mengembangkan studi Qur'an.
Dalam hasil penelitian ini tentu saja masih banyak kekurangan yang mungkin dapat disempurnakan selanjutnya. Karena itu kami mengharapkan kritik dan saran untuk lebih sempurnanya penelitian ini.
          
Pernyataan Nabi: “Setiap sesuatu memiliki hati (qalb), sedangkan Yasin adalah hati al-Qur’an”. Ulama, Abdul Basith Bashiron (tanpa diketahui asal usul biografi yang jelas) meramu kumpulan pengambilan ayat dari tiap 114 surat dalam al-Quran yang dianggap sebagai qalb/hati surat. ‘Ramuan’ itu telah dibuku-terbitkan dengan nama “Pusoko Sapu Jagat Cokro Joyo”

Sketsa Kitab Pusoko Sapu Jagat Cokro Joyo

  • Kitab dalam delapan lembar, berpendahuluan tentang faedah bagi pelaku pembacaan rutin kitab tersebut. Atau sebagai azimat atau jimat.    
  •  Awalnya disebutkan hadits tentang Qalbul Quran dengan beberapa embel-embel keterangan 
  • Kemudian ditambah setelahnya keterangan 51 faedah ayat-ayat pilihan yang disebut Qalbul Quran  tersebut.

Tradisi Pembacan Qalbul Qur’an di Pesantren Miftahul Ulum Wonokerto    Dukun Gresik
 
Agen

  • Adalah seorang pimpinan pesantren, Kyai Afifuddin (Nama sebenarnya) 
  • Tradisi ini berlangsung selama sudah beberapa tahun, rutin pada tiap senin malam selasa.

    Apa kata beliau?

  • “Saya mendapatkan ini ijazah dari Pakdhe saya, dulu juga saya pernah ditawari ayat-ayat semacam ini juga sebelumnya waktu di daerah Pati, Jawa Tengah tapi saya tidak menerima. Lalu Pakdhe saya menyodorkan buku yang ternyata sama seperti ayat-ayat yang ditawarkan orang Pati tersebut, akhirnya saya tradisikan untuk santri-santri di sini”.

Apakah beliau tahu?
      Pimpinan pesantren dengan pengakunya yang lain:
  • Kenapa beliau tetap mentradisikan. Beliau punya alasan sendiri, al-Quran semuanya baik. Tidak perlu ada yang ditakutkan. Permasalah riwayat atau apa itu bukan hal yang penting. Manfaat-manfaat membacanya pun sudah dicantumkan dengan jelas oleh pengarangnya. Beliau menyimpulkan dari penulusurannya kebanyakan ayat yang terpilih sering digunakan dalam kitab-kitab mujarrabat baik dibaca sebagai mantra atau ditulis sebagai jimat. 
  • “saya telah banyak bertanya termasuk kepada yang mengijazahkan kepada saya kitab ini, parihal riwayat kitab. Namun semua tidak bisa memberi penjelasan dengan jelas. Saya juga mencari sumber-sumber tentang kebenaran hadis yang ada di pendahuluan kitabnya, tapi jikapun benar, bagaimana metode pengarangnya menentukan ayat-ayat itu benar terpilih sebagai hati dari masing-masing surat”

Santri 
  •  Kebanyakan santri dengan khusyu membaca ayat-ayat tersebut, 
  • Pengakuan mereka, tidak tahu menahu tujuan pembacaan ayat-ayat ini, “pokoknya kami nurut kyai”  

Identifikasi Apresiasi Masyarakat terhadap Qalbul Quran
1.      Apresiasi
  • Qalbul Qur’an: sebagai istilah yang menyasar kepada satu surat; Yasin, yang notabene diklaim oleh Nabi tentang itu. 
  •  Qalbul Qur’an sebagai formulasi Qur’an hasil karya ulama, Abdul Basith Bashiron dengan nama kitab Pusoko Sapu Jagat Cokro Joyo 
  •  Al-Qur’an diracik ditelusuri sedemikian rupa dari 114 surat tersusun, sebagai perpanjangan tangan atas klaim Nabi tersebut. 
  •  Usaha itu merupakan apresiasi atas al-Quran. 
  •  Seorang agen (tokoh) mentradisikan pembacaan Qoalbul Quran di masyarakat.

2.      Permodelan Resepsi
  • Al-Quran dikonsumsi sebagai bahan baca, tanpa resepsi hermeneutis. 
  • Pencampuran unsur kepercayaan al-Qur’an sebagai jimat (resepsi mistikal). Kepercayan pada kekutan benda seperti keperyaan animisme dan dinamisme. 
  •  Perwatakan al-Quran sebagai mantra yang menciptakan roh dan bion atau energi positif (resepsi metafisikal). Tradisi masyarakat Jawa yang sering menggunakan mantera sebagai cara memunculkan kekuatan tertentu. 
  •  Mengunggulkan satu ayat dari ayat yang lain (resepsi prioritas). Seperti halnya pemilihan ayat-ayat tertentu yang digunakann sebagai hiasan di sekitar dinding dalam resepsi masyarakat Agra; dalam karya agung Taj Mahal.

3.      Analisis
  • Pertanyaan, bagaiamana ayat-ayat tersebut disarikan, terelisik ternyata penyaringan berhubungan dengan ayat yang sering digunakan dalam kitab-kitab mujarrobat 
  • Resepsi demikian, mengungkap superioritas antar ayat. Sebagaimana banyak fenomena penggunaan ayat tertentu dengan ragam sudut resepsi. 
  •  Sikap tersebut menjadi tonggak anggapan masyarakat bahwa al-Quran cukup dengan dibaca belaka (sebagai mantra)

4.      Teori
Sebenarnya dalam kasus dengan model resepsi yang demikian mempunyai rumus umum; rumus ini menjadi universal dan karena mendasar pada laku manusia dalam resepsinya terhadap sesuatu.

Al-Qur’an . metafisis = Mantra/jimat

  • Sinkronisasi dengan unsur implikasi metafafisis: al-Quran sebagai media berlabel "mantra/jimat"
  • Memunculkan diakronik tertentu bahwa tujuan al-Qur’an sebagai pakem ‘berpandangan hidup yang baik’ dikesampingkan, membiarkan nilainya mati dan menjadikannya sebagai teks budaya yang diam (dalam tradisi ini), dalam artian tanpa digali kandungan ajarannya.



[1] M. Habib Mustopo, manusia dan budaya, kumpulan essay. ILMU BUDAYA DASAR (Surabaya: Usaha Nasional, 1988), 175

Tidak ada komentar:

Posting Komentar